Laporan Singkat Tanggap Darurat Gempabumi Lembata 10 Oktober 2017

Bersama ini, kami sampaikan laporan singkat tanggap darurat bencana gempa bumi di Kabupaten Lembata, Provinsi Nusa Tenggara Timur berdasarkan data yang diperoleh dari pemeriksaan lapangan oleh Tim Tanggap Darurat (TTD) Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), Badan Geologi dan data rilis oleh Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) sebagai berikut:

 

1. Kejadian gempa bumi tersebut terjadi beberapa kali sebagaimana disampaikan dalam tabel berikut,

12

2. Kondisi geologi daerah terkena gempa bumi:

Goncangan gempa bumi melanda wilayah pantai utara Kabupaten Lembata, khususnya di dua kecamatan yakni, Kecamatan Ile Ape dan Kecamatan Ile Ape Timur. Wilayah tersebut pada umumnya disusun oleh batuan gunungapi dan batuan Kuarter berupa endapan aluvial pantai, dan batuan gunungapi muda. Batuan produk Gunungapi Lewotolok tersebut sebagian telah mengalami pelapukan. Batuan yang telah mengalami pelapukan dan batuan berumur Kuarter tersebut pada umumnya bersifat urai, lunak, lepas, belum kompak (unconsolidated), dan bersifat memperkuat efek goncangan gempa bumi, sehingga rawan terhadap goncangan gempa bumi.

 

3. Penyebab gempa bumi:

Berdasarkan posisi dan kedalaman pusat gempa bumi, kejadian gempa bumi tersebut diakibatkan oleh aktivitas Flores Back Arc Thrust (sesar naik busur belakang flores) yang berasosiasi dengan sesar orientasi arah relatif utara - selatan, sebagaimana disampaikan oleh BMKG melalui proses relokasi pusat gempa / hiposenter.

 

4. Gempa bumi Susulan

Gempa bumi susulan masih dapat dirasakan oleh masyarakat di Kabupaten Lembata hingga tanggal 15 Oktober 2017 dengan skala intensitas berkisar II hingga III MMI (Modified Mercally Intensity). BMKG mencatat sebanyak 9 kejadian gempa bumi susulan (tabel 1) dengan magnitudo kurang dari 5.0 SR (Skala Richter) dan kedalaman kurang dari 25 km. Jumlah dan kekuatan kejadian gempa bumi susulan tersebut terus menurun, hal ini mengindikasikan bahwa blok batuan sedang menuju ke tahap keseimbangan.

 

5. Dampak gempa bumi:

Berdasarkan hasil pemeriksaan lapangan kejadian gempa bumi tersebut telah mengakibatkan terjadinya bencana berupa kerusakan sejumlah rumah penduduk dan bangunan di Kabupaten Lembata di tiga desa terdampak, yakni Desa Waimatan dan Lamagute di Kecamatan Ile Ape Timur, serta Desa Lamawolo di Kecamatan Ile Ape. Hasil pengamatan lapangan tidak ditemukan adanya jejak tsunami akibat kejadian gempa bumi tersebut di daerah pantai Kabupaten Lembata

 

Skala intensitas maksimum kejadian gempa bumi tersebut melanda Kabupaten Lembata yaitu Desa Lamawolo, Lamau, Waimatan, Lamagute, Lamawara dan Waowala dengan intensitas IV MMI (Modified Mercally Intensity) (Gambar 1). Hal ini dicirikan oleh goncangan gempa bumi dirasakan oleh banyak orang di dalam rumah, di luar oleh beberapa orang, gerabah pecah, pintu berderik, dan dinding berbunyi. Terlihat adanya jatuhan batuan (rockfall) dan gelinciran batuan (rockslide) pada beberapa titik serta adanya jalan retak akibat guncangan yang melanda batuan penyusun lokasi tersebut.

 

Menurut informasi dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Lembata, kejadian gempa bumi tersebut telah mengakibatkan 2107 jiwa mengungsi dari desa terdampak. Pengungsian terdapat di tiga titik posko pengungsian yakni Halaman Rumah Jabatan Bupati Lembata (Posko Utama), Desa Lamau (sektor Ile Ape Timur), dan di Lahan Terbuka di Kecamatan Ile Ape. Gempa bumi juga mengakibatkan beberapa kerusakan bangunan sebagaimana dirangkum oleh Tim Tanggap Darurat Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Lembata (tabel 2).

 

Selama melaksanakan kegiatan tanggap darurat bencana gempa bumi, disamping melakukan pemeriksaan lapangan, TTD Badan Geologi melakukan rapat koordinasi terkait mitigasi gempa bumi dan tsunami dengan BPBD Kabupaten Lembata. TTD juga melakukan sosialisasi gempa bumi secara langsung kepada aparat setempat dan masyarakat di Posko Pengungsian Utama. Kerusakan terdapat di 9 (sembilan) kecamatan dan distribusinya sebagaimana disampaikan di tabel berikut serta (Gambar 3).

13

6. Kesimpulan

  • Gempa bumi yang terjadi pada tanggal 10 Oktober 2017 bersumber pada sesar aktif yang berorientasi arah utara-selatan berasosiasi dengan aktivitas Flores Back Arc Thrust (sesar naik Busur Belakang Flores).
  • Gempa bumi susulan masih memungkinkan untuk terjadi, tetapi menunjukkan kecenderungan menurun, baik pada kekuatan magnitudo maupun frekuensinya. Hal ini merupakan cerminan bahwa blok batuan yang telah terpatahkan dan mengakibatkan terjadinya gempa bumi, sedang menuju proses keseimbangan.
  • Berdasarkan sinkronisasi data dengan Pos Pengamatan Gunungapi Lewotolok, seiring menurunnya akivitas gempa tektonik, kondisi kegempaan vulkanik mengalami penurunan. Namun status G. Lewotolok masih tetap WASPADA (Level II) terhitung sejak tanggal 7 Oktober 2017 (Gambar 10).
  • Berdasarkan hasil pemeriksaan lapangan, kejadian gempa bumi tanggal 10 Oktober 2017 telah mengakibatkan bencana di Kabupaten Lembata. Skala intensitas maksimum melanda Kabupaten Lembata (Kecamatan Ile Ape dan Ile Ape Timur) yang mencapai skala  IV MMI (Modified Mercally Intensity).
  • Kerusakan bangunan yang terjadi diakibatkan oleh kondisi bangunan yang tidak mengikuti kaidah bangunan tahan gempa bumi (building code) dan terletak pada batuan Kuarter yang bersifat urai, lepas, belum kompak (unconsolidated), sehingga diperkirakan memperkuat efek goncangan gempa bumi (Gambar 6)
  • Tidak terlihat adanya jejak tsunami akibat kejadian gempa bumi tersebut di pantai Kabupaten Lembata.
  • Wilayah Kabupaten Lembata, Provinsi Nusa Tenggara Timur merupakan wilayah rawan gempa bumi, karena terletak dekat dengan sumber gempa bumi yaitu aktivitas Flores Back Arc Thrust dan sesar aktif di darat. Gempa bumi tersebut juga dapat memicu terjadinya gerakan tanah seperti yang melanda pemukiman di wilayah kelerengan G. Lewotolok di Kecamatan Ile Ape dan Ile Ape Timur.
  • Wilayah pantai Kabupaten Lembata juga rawan terhadap bencana tsunami karena berhadapan dengan sumber gempa bumi yang berpotensi membangkitkan tsunami, yaitu Flores Back Arc Thrust dan Gunungapi Submarine Batutara.

 

7. Rekomendasi:

  • Masyarakat agar tetap waspada dengan kejadian gempa bumi susulan. Gempa bumi susulan yang terjadi dan dapat dirasakan akan semakin mengecil energinya. Hingga saat ini belum pernah tercatat kekuatan gempa bumi susulan yang lebih besar dari gempa bumi utama.
  • Masyarakat dihimbau untuk tetap tenang dan mengikuti arahan serta informasi dari petugas BPBD dan Pemerintah setempat, serta tidak mudah  terpancing oleh isu - isu yang tidak bertanggung jawab mengenai kejadian gempa bumi dan  tsunami.
  • Pemerintah Kabupaten Lembata agar melakukan upaya relokasi terhadap masyarakat yang bermukim di 2 (dua) desa, yakni Desa Waimatan dan Desa Lamagute. Hal ini mengingat pentingnya upaya penyelamatan masyarakat di lokasi rawan bencana tersebut berdasarkan hasil kajian yang terintegrasi sejak Penyelidikan Tanggap Darurat pada bulan Desember 2012, Analisis Risiko Letusan G. Ile Lewotolok pada Tahun 2014, serta Penyelidikan Tanggap Darurat Gempa bumi pada Oktober 2017 yang telah dilaksanakan.
  • Pemerintah Kabupaten Lembata agar melakukan upaya mitigasi gempa bumi, terutama di daerah Kecamatan Ile Ape dan Kecamatan Ile Ape Timur. Melalui upaya mitigasi gempa bumi tersebut diharapkan adanya peningkatan kapasitas masyarakat, sehingga akan dapat mengurangi risiko bencana gempa bumi. Berdasarkan pemeriksaan lapangan, masyarakat di daerah tersebut belum pernah mendapat kegiatan sosialisasi, simulasi dan pelatihan gempa bumi.
  • Bangunan vital, strategis dan mengundang konsentrasi banyak orang agar dibangun mengikuti kaidah – kaidah bangunan tahan gempa bumi.
  • Hindari membangun pada endapan rawa dan tanah urug yang tidak memenuhi persyaratan teknis, karena rawan terhadap goncangan gempa bumi.
  • Hindari membangun pada bagian bawah, tengah dan atas lereng terjal yang telah mengalami pelapukan karena akan berpotensi terjadinya gerakan tanah/longsor bila digoncang gempa bumi.
  • Sehubungan wilayah pantai Kabupaten Lembata merupakan wilayah rawan tsunami, agar Pemerintah Kabupaten Lembata lebih meningkatkan kegiatan mitigasi bencana tsunami (sosialisasi, simulasi, pelatihan, dan lain - lain) kepada masyarakat, yang bertujuan meningkatkan pengetahuan masyarakat tentang tata cara menyelamatkan diri pada waktu terjadi gempa bumi yang berpotensi mengakibatkan terjadinyatsunami.
  • Bangunan alami pantai seperti karang, vegetasi pantai (bakau, pohon kelapa) cukup efektif untuk mengurangi energi tsunami, oleh karena itu kelestariannya harus selalu dijaga.
  • Agar Pemerintah Kabupaten Lembata dalam menyusun RTRW berbasiskan data potensi bencana geologi (gempa bumi, tsunami, gerakan tanah serta letusan gunungapi).
  • Agar Pemerintah Provinsi/ Kabupaten Lembata memasukkan materi kebencanaan geologi (gempa bumi, tsunami, gerakan tanah, dan letusan gunungapi) ke dalam kurikulum pendidikan agar para guru dan pelajar dapat menambah pengetahuan tentang mitigasi bencana geologi.

LAMPIRAN

3

Gambar 1. Lokasi Pusat Gempa

2

Gambar 2. Peta Intensitas

6

Gambar 3. Kondisi Longsoran Akibat Gempa

7

Gambar 4. Kondisi Kerusakan Bangunan Akibat Gempa

9

Gambar 5. Kondisi Pemukiman Terancam di Desa Lamagute, Kecamatan Ile Ape Timur.

10

Gambar 6. Kunjungan Bapak Gubernur NTT di Pengungsian.